Selain mengupayakan ketersediaan energi emisi karbon rendah, akses terhadap energi merupakan tantangan besar transisi energi yang harus dihadapi masyarakat. Didorong oleh keinginan untuk memperbaiki gaya hidup masyarakat desa yang kekurangan listrik, Zaid R. Hanan dan Irvan Hermala mendirikan BerbagiListrik; sebuah badan yang menyediakan energi berkelanjutan untuk daerah-daerah terpencil yang kekurangan listrik.

Gagasan dari BerbagiListrik muncul pertama kali saat salah satu founder mereka yang pernah terdampar di daerah Sumbawa yang terpencil. Pada saat beliau terdampar, dimana tanpa ada penerangan sama sekali, beliau ditolong oleh masyarakat setempat. Terinspirasi dari pengalaman tersebut, beliau tercetus satu gagasan, yaitu ingin membantu daerah-daerah terpencil untuk memiliki penerangan yang mandiri dan berkelanjutan.

Bekerjasama dengan LSM, lembaga crowdfunding, dan program tanggungjawab sosial perusahaan yang berkaitan dengan implementasi energi di daerah pedesaan, BerbagiListrik memastikan agar akses energi yang disediakan bagi tiap-tiap desa gratis tanpa dipungut biaya apapun. Tidak hanya itu, demi mengupayakan pemberdayaan energi yang berkelanjutan, mereka juga menciptakan "model pengembangan masyarakat" yang bertujuan untuk memberdayakan komoditas serta industri di tiap desa yang mereka bantu.

BerbagiListrik memiliki fasilitas research & development khusus untuk mengembangkan produk sel surya mereka sendiri. Hal ini telah membuahkan hasil, seperti saat mereka mengembangkan Solar Freezer 1.0 untuk mempermudah nelayan di Aceh dalam memanen dan membudidayakan komoditas mereka, yaitu lobster. Mereka juga turut menerapkan implementasi energi berkelanjutan melalui model pengembangan masyarakat. Model pendapatan sosial mereka diperkuat melalui berbagai kanal tidak hanya dari pendanaan program tanggungjawab sosial perusahaan & LSM, tetapi juga dari paket crowdfunding dan pariwisata. Terlebih, mereka juga menyediakan platform khusus untuk crowdfunding energi bersih yang akan menjadi yang pertama di Indonesia.